Exploring the Garden …

 Seperti biasanya, Setiap Sabtu dan Minggu (9 Maret 08), jika hari cerah – ada ritual khusus yang harus kami jalani bersama anak-anak, mengajak kedua bocah lucu ini keliling kompleks. Kegiatan ini paling disenangi Zalfa dan Aisyah, karena di tempat kami masih cukup banyak tanah kosong, dan taman-taman yang lumayan asri untuk bisa berolahraga sambil sunbathing untuk kedua anak ini. Ummi dan Abi berjalan kaki, sementara dua pasukan kami, lengkap dengan sepeda kecil dan pasokan makanan yang diletakkan di keranjang sepedanya.  Mata Zalfa sejak awal tertuju pada seekor lebah yang sedang hinggap di bunga-bunga. “Bi, itu ada lebah” … Iya nak… itu lebahnya sedang cari makanan, nah nantinya dia akan keliling dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Nanti makanan itu dibawa ke sarangnya, dan bisa jadi madu yang biasa kita makan deh… “Dalam hati, sepertinya metode belajar aktif seperti ini perlu terus dikembangkan nih… dari kata-kata lebah saja, bisa muncul banyak pertanyaan.. Setelah main kejar-kejaran diselingi suapan makan oleh umminya, kamipun menepi di pinggir taman. Tak sengaja pula Zalfa menunjuk benda aneh yang menariknya. Bi… itu apa?  Ini siput nak…. Tuh.. dia zal17.jpgjalan-jalan sambil bawa rumahnya ke sana kemari, jalannya lambaaaatt sekali… karena itu terkadang orang yang lambat suka dibilang seperti siput…): siputRumahnya itu makin lama akan makin besar.. nah zal13.jpgdia mau coba masuk saluran air tuh.. tapi tidak bisa masuk.. karena rumahnya nggak bisa lewati sela-sela saringan air… Zalfa dan Aisyah tampak serius mendengarkan penjelasan Abi,zal14.jpg sambil mengamati adanya benda aneh yang menyembul seperti antenna.  Nah.. ini matanya nak… ada antenanya, coba hitung ada berapa tuh… 1,2,3, 4… ternyata ada 4, Abinyapun juga baru tahu.. maklum lah.. dulu nilai biologinya gak bagus-bagus amat sih, lantaran trauma dengan guru biologi yang terlalu killer… apa jangan-jangan hal seperti ini yang bisa menghambat orang belajar ya..?? Abipun langsung mengangkat siput ini.. dan mengarahkannya untuk bisa diamati Zalfa dan Aisyah… mereka sepertinnya langsung reflek takut dengan barang baru… Gak usah takut nak.. gak apa-apa kok.. kan Abi pegang… ini lihat… badannya kayak apa…sambil memberi penjelasan kepada Aisyah dan Zalfa…itu badannya juga bisa ditarik masuk ke rumahnya tuh.. Nah… siput ini suka makan daun-daunan nak.. coba lihat deh.. Makanan kedua anak inipun sudah hampir habis, dan kebetulan kami ada acara lagi di pagi ini..

Family Book Shopping !!!

Jum’at ini hari libur (7 Maret 08) – kebetulan sekali berbarengan dengan adanya Islamic Book Fair di Istora Senayan.  Biasanya kami tidak pernah melewatkan kegiatan pameran ini, tapi biasanya Zalfa dan Aisyah jarang kami ajak ikut serta, mengingat begitu banyaknya pengunjung pada pameran itu.

Mi… kita jalan ke Pameran buku yuk.. ajak Abi ke Ummi di Kamis malam, besok kita berangkat agak pagi aja, supaya bisa dapat kunjungan sebelum Jum’at, kita ajak Deni sama Ani aja. Kebetulan Deni, adiknya Abi punya keinginan yang sama, maklumlah .. dia juga perlu cari-cari info tentang buku-buku untuk menyambut kelahiran anak pertamanya yang mungkin akan lahir dalam pertengahan Maret ini.

Pagi itu, kami sudah kondisikan Zalfa dan Aisyah, karena kami ingin jadikan kesempatan pertama kami jalan bareng cari buku. Lagipula, sudah cukup lama kami tidak menambah stock buku anak di rumah- mengingat begitu banyaknya buku-buku yang sudah robek-robek, maklum lah.. anak balita..Kamipun harus menyiapkan kereta dorong buat salah satu anak kami yang capek jalan kaki nantinya.

Kamipun sampai di tempat di waktu yang agak mepet, jam 10.30 – yah sudah lah.. masuk aja ke pameran..

“Bi… kok ramai banget ya… cetus Zalfa. Iya nak.. banyak orang mau cari buku, kan banyak buku murah disini..

Mi… itu ada stand buku anak.. coba lihat-lihat aja ke situ.,Umi, Aisyah dan Zalfa pun sudah asyik selonjoran di counter Syamil Kids, dan langsung ngoprek-ngoprek buku yang menarik perhatiannya. lihat buku

lihat bukuKamipun masih perlu melihat stand lain, karena biasanya disini pasti banyak koleksi.. dan kamipun masuk ke arena pameran lebih dalam.

Secara tak terduga.. ada miss call, ternyata dari salah satu teman kuliah Abi. Ternyata om Hendra… jadi kangen-kangenan deh..

Zalfa dan Aisyahpun ternyata sudah menclok di tempat buku anak yang lain..

Rehat sejenak, Shalat Jum’at ..Dan eksplorasipun kembali dimulai..

Zalfa tampak asyik melihat CD program Bahasa Inggris untuk anak…lihat komputer Bi.. beli ya… ujar Ummi..ya sudah mi … beli aja..Aisyahpun tampak menikmati kegiatan “eksplorasi buku” menurut caranya sendiri … kadang-kadang sampai naikin tumpukan buku-buku..dugh…aisyah eksplorasi buku.

Setelah itu.. kamipun beralih ke counter lain.. Mizan…Kami kebetulan cukup akrab dengan penerbit ini, mengingat kami pernah beli pake buku Mizan “Hallo Balita” waktu umur Zalfa sekitar 6 bulanan, kualitasnya bagus.. dan ternyata kami menemukan lebih banyak buku anak disini.. jadi borong lagi deh….

 Mi.. ini pilih puzzle buat Aisyah dan Zalfa… perlu tuh, buat latihan.. iya bi… sahut Ummi. .. dan 2 jenis puzzle pun diserahkan di kasir..  ummi

Abipun dapat referensi buku yang cukup bagus.. Dictionary Al-qur’an 2 bahasa, Inggris, Indonesia.. wah.. lumayan untuk nambah vocab nih.. akhirnya beli juga deh.. untuk menambah referensi di rumah.. itung-itung bisa belajar bahasa arab sederhana deaisyahh.. soalnya kan banyak akar kata dalam Al-Qur’an itu yang berulang, sehingga akan memudahkan untuk dipahami dan dihapalkan..

 Kesempatan itupun jadi pengalaman manis buat kedua anak kami.. mudah-mudahan anak kami bisa menjadi bagian orang-orang yang haus Ilmu. Sorot mata kedua anak inipun menyiratkan rasa senangnya di pameran ini…   zal5.jpgSampai di rumah pun… Zalfa tak sabar langsung melihat-lihat buku yang baru saja diborongnya… Kamipun mencoba mengarahkannya untuk mencoba permainan puzzle untuk kedua anak kami.zal4.jpg. ternyata kedua anak ini cukup interest dengan permainannya, apalagi Abinya sendiri… hehehe… maklum .. masa kecilnya kurang bahagia….jadi main bareng-bareng deh…): 

Lesson Learned : 

Di kegiatan book shopping ini kami mendapatkan banyak informasi tentang preferensi anak. Kami pun jadi bisa berkontemplasi lebih dalam bahwa di usia-usia emas ini, anak-anak akan sangat mudah menyerap informasi, tinggal kita sebagai orang tuanyalah yang akan mengarahkan informasi apa yang “layak” dikonsumsi untuk anak.

Anak menjadi sangat jenius, karena dengan sangat mudah mereka merekam apa yang dia dengar, lihat dan rasakan. Karena itu tak heran, kami terkadang sering mengurut dada, mengapa anak-anak sekarang sepertinya sering dipaksakan menjadi sangat cepat dewasa … mulai dari apa yang dinyanyikan, pakaian yang dikenakan, maupun kata-kata yang diucapkan..dan tak jarang pula ada orang tua yang sepertinya terlihat “happy” zal3.jpgdengan kondisi tersebut… Apakah jangan-jangan kondisi tersebut sebenarnya merupakan bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dengan berbagai macam impact-nya?

Masa anak-anak adalah masa bermain, dan masa itu hanya sekali… lalu kenapa kita dengan tega mencoba merampasnya dari mereka? Bagaimana menurut Anda ??

    

Why Islamic Home Schooling? Reference

” Upaya mengembalikan fungsi rumah sebagai wahana tarbiyah Islamiyyah sebagaimana diamalkan Salaful Ummah”

taken from http://belajardirumah.co.nr/Oleh : Abu Muhammad Ade Abdurrahman

Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.

Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.

Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.

Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan ‘pelanggaran terhadap hak asasi anak’.

Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak ‘membela diri’, bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan : wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah.

Substansi dari bersekolah (schooling) sebenarnya adalah belajar (learning). Belajar dapat dilakukan di manapun. Bersekolah hanyalah salah satu cara untuk belajar. Jadi, para orangtua tak perlu merasa bersalah atau rendah diri dengan menjalankan Home-Schooling. Juga, mereka yang menyekolahkan anaknya ke sekolah massal pun jangan dulu berbangga hati.

Sebab, kalau kita mau lebih menukik pada kedalaman realitas, kita patut mempertanyakan : Apakah benar bersekolah itu otomatis sama dengan belajar ? Jawabannya : Belum tentu !

Mari kita pelajari faktanya ! Saat ini, berapa puluh juta lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi ? Di sisi lain, berapa puluh juta pula yang berstatus pengangguran ? Padahal, betapa besar karunia Allah berupa kekayaan alam di negeri ini. [1] Apa yang mereka pelajari di sekolah ? Inilah salah satu fakta bahwa belajar di sekolah belum tentu efektif. Dengan kata lain bersekolah belum tentu berarti belajar.

Dalam banyak kasus, bersekolah bahkan menjadi penyebab kegagalan hidup seorang anak. Tidak sedikit anak yang terjerumus kepada hal-hal negatif yang menghancurkan hidup mereka, justeru mereka dapatkan lewat pergaulan di sekolah, baik dari (oknum) guru-guru mereka atau dari (oknum) kawan-kawan mereka.

Tanpa perlu penelitian mendalam, banyak yang menilai bahwa metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang sekarang berjalan pun cenderung menciptakan mental-block (hambatan mental) yang menghambat laju kreatifitas anak, padahal justeru hal itu amat dibutuhkan di era informasi global saat ini.

Sekiranya otak anak terus menerus hanya dijadikan keranjang informasi iptek (itupun hanya sebatas untuk keperluan menyelesaikan soal-soal ujian). Maka dapat dibayangkan, betapa akan kesusahannya dia mengejar laju pertambahan informasi iptek yang terus berkembang dalam hitungan jam, atau bahkan menit.

Mengapa tidak terpikirkan oleh kita – para orangtua – untuk melatih dan mengasah otak mereka yang ajaib itu agar mampu memola ulang informasi tersebut, sehingga akhirnya mereka mampu menciptakan informasi baru ?

Merangsang anak untuk bertanya ‘Apa .?’ , ‘Mengapa . ?’ dan ‘Bagaimana. ?’ adalah hal yang penting sekali. Keingintahuan adalah tabiat dasar mereka.

Namun di samping itu, kita pun perlu merangsang anak untuk bertanya : ‘Mengapa tidak .?’ dan ‘Bagaimana jika .?’. Agar mereka menjadi insan-insan kreatif. Jangan keliru, kreatifitas pun sebenarnya adalah bakat alamiah setiap anak, jika saja para orangtua tidak malas mengasahnya. Atau, malah menyia-siakannya.

Sayang sekali, keingintahuan (curiosity) dan kreatifitas (creativity) – dua mutiara terpendam dalam jiwa anak – saat ini justeru banyak ditelantarkan di sekolah massal (formal). Wajar kalau Robert T. Kiyosaki berteriak lantang : “If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School !”.

Ada alasan lain : “Keunikan”. Anak itu unik! Cara belajar mereka juga unik, seunik sidik jari mereka; yakni masing-masing anak secara individual memiliki pembawaan dan cara yang khas dalam menyerap serta menggali pengetahuan. Jadi, bagaimana mungkin anak-anak dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, jika mereka dituntut harus “berseragam” di sekolah ?

Berdasarkan penelitian [2] bahwa seseorang menjadi jenius adalah pada saat dia mampu menemukan sendiri cara belajarnya yang unik dan orisinil. [3] Seperti dikatakan Enstein : “Saya tidak memiliki bakat-bakat khusus, tetapi hanya memiliki rasa keingintahuan yang besar sekali.”.

Keingintahuan yang sangat besar – dilandasi keikhlasan – jugalah nampaknya yang membuat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mampu bersabar duduk berjam-jam lamanya di sudut sepi perpustakaan. Beliau lakukan itu berpuluh-puluh tahun lamanya hingga akhirnya menjadi jenius di bidang hadits dan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Menjadi mujaddid abad ini sebagaimana diakui ulama besar yang sezaman dengan beliau, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah.

Namun, agar tidak memunculkan kontroversi yang sia-sia, perlu ditegaskan di sini bahwa :

• Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat profesi keguruan.

• Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat peran sekolah formal yang sudah ada dan banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat.

• Kami pun tidak mengklaim bahwa : Home-schooling adalah satu-satunya cara untuk mendidik Anak.

Tetapi . yang kami yakini :

– Home-Schooling adalah : Sarana paling efektif dalam upaya membangun hubungan baik dan hangat dengan Anak. Mendampinginya saat ia menjalani hari-harinya untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa.

– Home-Schooling adalah : Alternatif terbaik dalam mendidik Anak, memelihara fithrahnya serta mengembangkan potensinya yang unik. Karena berpijak pada orisinalitas dan individualitasnya sebagai hamba Allah.

– Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk menunaikan secara optimal peran dan tugas keorangtuaan yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

– Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk mengembangkan potensi orangtua dan anak dalam hal penguasaan ilmu syar’i, memperbaiki akhlaq diri, membina keluarga sakinah, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisai, bahkan mengembangkan potensi ekonomi.

ISLAMIC HOME-SCHOOLING

Islamic Home-Schooling (Selanjutnya akan disingkat IHS) adalah Home-Schooling yang diselenggarakan bertitik tolak dari pertimbangan syar’i, yakni kewajiban orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak, serta dijalankan dengan mengikuti tuntunan AlQuran dan AsSunnah sebagaimana dipahami dan diamalkan para pendahulu ummat ini yang shalih (AsSalafush Sholih).

Tujuannya adalah :

1. Terciptanya keluarga sakinah; yang di dalamnya semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan sebaik-baiknya

2. Terbentuknya generasi penerus yang bertauhid, berpegang kepada sunnah, berakhlaq mulia, berbadan sehat, multi-cerdas, kreatif dan mandiri serta memiliki semangat untuk membela Islam dan kaum muslimin

SUBYEK IHS

IHS PERMATA HATI dimaksudkan bagi anak usia 0 – 13 tahun secara umum. Atau sampai anak berusia 16 tahun bagi orangtua yang memiliki kemampuan mengajarkan gramatika Bahasa Arab (kitab gundul) dan ilmu-ilmu syar’i tingkat menengah. Adapun setelah anak memasuki usia baligh maka anak harus diarahkan untuk melakukan rihlah ilmiyyah guna menimba ilmu dari para ulama, jika hal itu memungkinkan (dan memang harus diupayakan).

MENGAPA “ISLAMIC HOME-SCHOOLING” ?

Menyelenggarakan IHS membutuhkan motivasi yang luar biasa besar dari pihak orangtua. Motivasi akan muncul ketika seseorang dengan sadar dan yakin memahami alasan mengapa dia melakukan sesuatu. Maka kita dituntut untuk memiliki prinsip.

Ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan prinsip dalam menyelenggarakan IHS :

1. Pertimbangan syar’i. Dalam syari’at, kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Setiap anak yang dilahirkan berada di atas fithroh (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi.” (HSR. Malik, Ahmad, AlBukhori, Muslim, Abu Daud, AtTirmidzi)

2. Pertimbangan fakta sejarah. Banyak kisah dalam AlQuran yang menggambarkan peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. (Baca : Qs. Maryam 54-55, QS. Luqman : 13) Interaksi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cucu beliau, Hasan dan Husain, atau dengan sepupu beliau, Ibnu Abbas, atau dengan putera asuhnya yang berkhidmat kepada beliau, Anas bin Malik juga dapat kita jadikan referensi. Dari kalangan ulama Islam, tercatat misalnya Ibnul jauzi yang menulis kitab khusus untuk puteranya yang berisi petunjuk menuntut ilmu secara lengkap, Laftatul kabid fi nashihatil walad (Kitab ini patut menjadi rujukan dalam IHS).

3. Pertimbangan naturalitas. Perhatikanlah, anak ayam belajar tentang hidup kepada induknya. Anak kucing belajar tentang hidup kepada induknya. Bayi ikan paus belajar tentang hidup berpuluh tahun pada induknya. Tapi lihatlah si ujang dan si nyai. Kepada siapa mereka belajar tentang hidup ? Ah kasihan sekali, mereka belajar tentang hidup kepada orang lain yang tidak benar-benar mengenalnya !

4. Pertimbangan orisinalitas dan individualitas anak. Orisinalitas (keaslian) seorang anak adalah : fithroh, keingintahuan dan kreatifitasnya. Sedangkan individualitas (ke-diri-an), meliputi qolb dan jasad (contoh yang jelas : sidik jari, suara dan DNA). Orisinalitas dan individualitas menyebabkan tiap anak unik dalam segala hal, termasuk cara belajar mereka. Agar mereka dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, anak wajib mendapatkan kebebasan. [4]

DARI MANA KITA MEMULAI ?

a. Tash-hihun Niyyah (memperbaiki niat)

Mendidik diri dan keluarga adalah ibadah. Ada dua rukun ibadah, salah satunya adalah niat yang ikhlash. Rukun yang lain : muwaafaqotusy-syar’i, yakni cocok dengan aturan syari’at. Jika salah satu rukunnya rusak maka amal akan menjadi sia-sia.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir (terjauhkan dari rahmat Allah) QS. AlIsra: 18

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Huud : 15-16)

Niatkan ber-IHS dalam rangka menjalankan kewajiban syar’i dengan mengharap keridhoan Allah dan jannah-Nya.

b. Bagi yang masih lajang dan berniat ber-IHS, maka berhati-hatilah memilih calon ibu/ayah dari anak anda. Tetapkan pilihan Anda itu di atas dasar Din. Jangan silau dengan penampilan zhahir.

c. Keluarga sakinah sebagai prasyarat

Salah satu keuntungan ber-IHS adalah kita memiliki kemauan kuat dan terprogram untuk mewujudkan Keluarga Sakinah. Hal yang mungkin terabaikan jika kita melempar tanggung jawab mendidik anak (usia 0-13 thn) kepada orang lain. Alasannya sederhana. Saat kita memutuskan ber-IHS, kita ingin suasana lingkungan rumah tertata se-Islami mungkin. Kita takut anak kita mendapat pengaruh buruk dari kebiasaan buruk kita selaku orang tua. Maka selalu ada upaya untuk memperbaiki diri dan keluarga.

Apa itu Keluarga Sakinah ? Definisi yang paling teknis adalah : Keluarga yang di dalamnya, semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan baik. Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin dalam kitabnya, “Huququn da’at ilaihal fithroh wa qorrorot-hasy syari’ah”, menerangkan 10 hak yang wajib ditunaikan, yakni : Hak-hak Allah, hak-hak Nabi, hak-hak orangtua, hak-hak anak, hak-hak kerabat, hak-hak suami-istri, hak-hak pemimpin dan rakyat, hak-hak tetangga, hak-hak kaum muslim secara umum, hak-hak non muslim.

Semua hak ini wajib dipelajari secara rinci agar bisa ditunaikan dengan benar dan sempurna. Langkah pertama adalah mempelajari. Langkah kedua menerapkannya. Langkah ketiga terus-menerus mengevaluasi sisi mana yang belum tertunaikan. Mewujudkan keluarga sakinah menjadi bukan khayalan lagi, melainkan kesungguh-sungguhan yang berkesinambungan.

d. Dengan sepenuh hati menyukai anak anda. Senang bersamanya, sedih berpisah darinya. IHS menuntut komitmen total dari orangtua, khususnya ibu. IHS bukan sekedar memindahkan belajar dari sekolah ke rumah melainkan sebuah pola interaksi ideal orangtua-anak yang dibalut kehangatan dan kelembutan.

e. Menjaga rumah dari syetan

Kita adalah ‘keluarga besar’ Nabi Adam ‘alaihis salam. Apa yang menimpa beliau bersama isterinya, Hawa, adalah bagian dari sejarah dan hidup kita hari ini. Adam adalah bapak kita dan Hawa adalah ibu kita, dan kita mengetahui apa yang telah menimpa mereka diakibatkan kedengkian iblis. Membaca ulang kisah awal penciptaan manusia akan membantu kita memahami – atau tepatnya : selalu tersadarkan – tentang asas pendidikan Islami yang sebenarnya. Maka kenalilah iblis dan tipu dayanya lalu jadikanlah dia musuh untuk diperangi.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka jadikalah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 6)

Beberapa kiat menjaga rumah dari syetan :

1. Perbanyak melakukan sholat di rumah [5] , 2. Perbanyak membaca Al Quran di rumah, 3. Biasakan dzikir pagi dan sore, 4. Jaga adab-adab di rumah yang di dalamnya ada bacaan-bacaan yang disyari’atkan, 5. Bersihkan rumah dari gambar atau bentuk-bentuk salib, 6. Bersihkan rumah dari gambar-gambar hewan dan manusia, 7. Bersihkan rumah dari patung hewan dan manusia, 8. Bersihkan rumah dari suara lonceng, 9. Bersihkan rumah dari suara musik, 10. Jangan biarkan anjing berkeliaran di sekitar rumah. 11. Bersihkan rumah dari kemungkaran.

f. Menciptakan lingkungan rumah yang kondusif : aman, sehat serta penuh daya-rangsang terhadap kreatifitasnya

Tentang kriteria aman, sehat dan penuh daya rangsang dapat dipelajari lebih lanjut dari beragai referensi. Hanya saja ada 2 prinsip yang perlu dicatat :

Pertama, lebih baik membatasi lingkungan daripada membatasi anak. Kedua, kurangi aturan (omelan-omelan) dengan cara menetapkan tempat tertentu untuk barang tertentu kemudian beri label dan tempel aturan singkat yang jelas dan dapat dibaca anak.

g. Memiliki kemauan keras untuk mempelajari baca tulis AlQuran dan ilmu-ilmu syar’i tingkat dasar

Dapat dikatakan bahwa materi pelajaran inti yang wajib diajarkan kepada anak usia s/d 13 tahun (usia ibtida-iyyah) adalah apa yang juga wajib diketahui semua muslim dan muslimah. Maka tidak ada alasan untuk menghindari kewajiban mempelajarinya, walaupun sekiranya kita tidak memiliki anak. Apalagi jika kita memiliki anak. Jelaslah ber-IHS merupakan peluang emas bagi kita untuk meningkatkan kwalitas keislaman kita.

h. Mempelajari keterampilan mendidik dengan cinta

Peran orangtua dalam mendidik anak persis seperti petani yang menanam padi di sawah. Yang harus dikerjakan dan selalu diperhatikan ada 5 hal :

1. Mempelajari ilmu tentang bercocok tanam (poin g dan h)

2. Memilih benih yang unggul (poin b)

3. Mempersiapkan lahan dengan mencangkul dan membajak (a, d, c dan f)

4. Memberikan nutrisi yang cukup : air dan pupuk

5. Menjaga dari hama (poin e)

Selanjutnya petani tidak ikut campur lagi. Bagaimana benih padi itu akan tumbuh, berapa lama berbiji dan menghasilkan biji seberapa banyak adalah merupakan ketentuan Allah. Petani tidak boleh dan memang tidak bisa intervensi. Petani sudah berusaha maksimal. Dia akan mendapatkan pahala di sisi Allah, jika amalnya itu ikhlash dan sesuai dengan syari’at.

Semuanya sudah dijelaskan kecuali nomor 4, memberikan nutrisi. Nutrisi dalam mendidik adalah : Rasa hormat yang tulus pada anak, Penuh pengertian, Peka terhadap masalah dan kebutuhannya, Menerima apa adanya dengan lapang dada. Jika menggunakan kosakata populer : Respek, Empati, Sensitif dan Penerimaan (dapat disingkat RESeP).

APA YANG HARUS DIAJARKAN ?

Untuk matapelajaran umum dapat mengacu pada kurikulum Diknas. Bisa juga menetapkan sendiri. Menjadikan hidup sebagai kurikulum, tidak ada yang melarang.

Penting untuk selalu diingat : bahwa cara dan pola pendekatan Home-Schooling dalam menyampaikan materi pelajaran murni berbeda dengan di sekolah. Dalam Home-Schooling yang ditekankan adalah memilih cara berinteraksi dan berkomunikasi yang tepat serta khas antara orangtua dan anak.

Orangtua dituntut kreatif dalam memilih metode dan media yang membuat interaksi menjadi hangat dan akrab. Jadikan proses belajar sebagai proses alamiah hubungan orangtua-anak (seperti halnya melahirkan, menyusui dan memberi makan). Semua momen interaksi orangtua-anak adalah belajar. Jadi dalam Home-Schooling anda bisa gunakan waktu kapanpun – jika dianggap tepat – untuk memberikan penguatan-penguatan pada salah satu materi yang menurut anda perlu diperkuat.

Materi Diniyyah yang diajarkan di IHS PERMATA HATI, secara garis besar meliputi :

A. Tarbiyah Syakhshiyyah (Pembinaan Karakter)

B. Tahfizhul Quran

C. Tahfizhul Ahaadits

B. ‘Ulum Syar’iyyah (Ilmu-ilmu Syar’i) : Aqidah, Manhaj, Fiqh, Tafsir, Akhlaq, Tarikh

C. Bahasa Arab

MENEPIS KERAGUAN

• Keraguan Pertama : “Aku tidak bisa menghadapi anak !”

Jawaban : Kala anda memutuskan untuk menikah, apakah tidak terpikirkan bakal memiliki anak ? Mempelajari keterampilan mengasuh dan mendidik anak adalah konsekwensi yang harus anda pikul dari keputusan yang anda ambil itu. Kecuali anda seorang egois yang hanya memikirkan kesenangan pribadi dari sebuah pernikahan ! Perhatikanlah, banyak orang yang mempelajari keterampilan seksual dengan cara membeli banyak buku referensi atau berkonsultasi kepada pakar seks, meski keterampilan tersebut amat sangat bersifat primitif dan – maaf – menjijikan kala dibuka di depan publik. Mengapa anda kalah oleh mereka. Anda bisa bersaing dengan mereka dengan mempelajari keterampilan yang jauh lebih penting, yakni keterampilan mendidik anak. Banyak wanita khawatir penampilannya tidak lagi menarik di hadapan suami lalu berusaha keras dengan berbagai cara. Tapi amat sedikit yang khawatir kalau penampilannya tidak lagi menarik di hadapan anak-anaknya sehingga tidak melakukan apapun untuk mereka. Ah, tragis sekali !

• Keraguan kedua : “Aku bukan ustadz !”

Jawaban : Ini sudah dijelaskan, bahwa materi pelajaran inti yang wajib diajarkan kepada anak usia s/d 13 tahun (usia ibtidaiyyah) adalah apa yang juga wajib (fardhu ‘ain) diketahui setiap muslim dan muslimah. Maka tidak ada alasan untuk menghindari kewajiban mempelajarinya, walaupun sekiranya kita tidak memiliki anak. Apalagi jika kita memiliki anak. Anda bisa bertanya pada diri sendiri : “Apakah kalau aku tidak ber-IHS, aku bebas dari kewajiban mempelajarinya ?”.

• Keraguan ketiga : Seorang ibu barangkali berkata : “Kalau aku secara total harus mengurus anak, bagaimana aku bisa mengembangkan diri ?”

Jawaban : Saya ingin menepis keraguan ini dengan menukil beberapa kalimat yang ditulis seorang wanita barat yang beragama nasrani, agar kaum muslimat – yang telah dijaga kehormatan dirinya oleh Allah dengan hijab – dapat merenungkannya (semoga kesimpulan mereka sama dengan saya, bahwa kalimat-kalimat ini lebih layak diucapkan oleh seorang muslimah yang berhijab) :

“Dalam budaya Barat, terbebas dari tanggung jawab mengasuh anak seringkali dipandang sebagai cara terbaik dan satu-satunya cara bagi seorang ibu untuk mengembangkan diri. Saya tidak setuju sama sekali dengan pandangan seperti itu. Waktu yang saya habiskan di rumah, bermain dan belajar bersama anak-anak, adalah masa paling produktif dalam hidup saya. Saya serius!”. (Marty Layne, Ibuku Guruku, hal. 26) Selanjutnya dia berkata di hal. 364 : “Sebenarnya hanya dengan benar-benar merawat dan mengasuh anaklah kita belajar bagaimana menjadi ibu.” . Lanjutnya lagi, masih di hal. 364 : “Mari kita lihat sebagian cara untuk mengembangkan kehidupan yang tidak mengharuskan pemisahan dari anak-anak kita.”

Kemudian dia memberikan contoh : membaca, merajut, membuat karya tulis atau berolah raga ringan !

MEMETIK MANFAAT

Apa manfaat menjalankan IHS ? Kalau saja tidak ada manfaat lain dari IHS selain pahala dari sisi Allah atas upaya kita menunaikan peran dan kewajiban selaku suami/istri dan atau ayah/ibu secara maksimal dan optimal, maka bagi seorang mukmin hal itu sudah cukup. Tapi ada banyak manfaat lain yang semuanya sudah disinggung pada penjelasan yang terdahulu. Semoga bermanfaat.

Karawang, 28 Shafar 1428 H/18 Maret 2007

———————————————————-

[1] Contoh kecil : Menurut keterangan Direktur Bank Mu’amalat Indonesia, bahwa panjang pantai Indonesia adalah 88.000 km sehingga menempatkan Indonesia termasuk 10 negara berpantai terpanjang di dunia. Ironisnya, kita masih mengimpor 1,5 juta ton garam per tahun !

[2] “Your child can think like a genius, How to unlock the gifts in every child”, karya Bernadette Tynan, presiden Beautiful Minds, sebuah lembaga amal yang didirikan untuk mendanai penelitian-penelitian yang bertujuan mengembangkan bakat alami anak-anak, mantan dosen senior pada Research Centre for Able Children di Oxford. (Diterjemahkan dengan judul : “Melatih anak berpikir seperti jenius, Menemukan dan mengembangkan bakat yang ada pada setiap anak”, Penerbit Gramedia). Inti buku itu adalah memperkenalkan : Thumb Print Learning, yakni : cara belajar seunik sidik jari.

[3] Belajar secara mulaazamah kepada masyayikh, sebagaimana dijalankan para salafus sholih berabad-abad lamanya, memberikan banyak kebebasan kepada siswa untuk menentukan matapelajaran apa yang akan dipelajari dan bagaimana dia mengembangkannya. Sehingga para siswa memiliki kesempatan yang luas untuk menemukan sendiri cara belajarnya yang unik. Allaahu a’lam.

[4] Bebas adalah keadaan seseorang ketika melakukan sesuatu dengan senang hati dan atas pilihannya sendiri. Mukmin, ketika melakukan ketaatan (menunaikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya) melakukannya dengan senang hati dan berdasarkan pilihannya sendiri, bukan karena tekanan. Maka mukmin adalah orang yang sungguh-sungguh bebas dalam makna yang hakiki. Munafiq adalah orang yang sungguh-sungguh terbelenggu jiwanya. Kafir juga bebas, tetapi kebebasannya bersifat maya (semu), karena secara internal dia sedang berperang dengan fithrohnya dan terbelenggu oleh hawa-nafsunya, serta berada di bawah ancaman azab. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa peran orangtua adalah ‘menanamkan’ pemahaman yang benar tentang kebaikan dan keburukan ke dalam pikiran anak, sehingga nanti anak bertindak berdasarkan pemahaman, bukan karena paksaan dari luar. Proses menanam ini harus dilakukan dengan dengan : ikhlash, berkesinambungan, multi-metode serta pendekatan lembut dan penuh kesabaran. Tidak ada batasan waktu tertentu yang diperlukan untuk proses ini. Nabi Nuh ‘alaihi salam tinggal bersama kaumnya selama 950 th, berdakwah siang malam (kesinambungan), dengan i’lan dan isror (multi-metode). Tidak dapat dikatakan gagal, hanya karena sedikit yang mengikutinya. Tidak ada kata GAGAL dalam kamus mendidik, jika sudah dilakukan dengan benar. Kita bertanggung jawab pada proses bukan pada hasil ! Menemukan cara yang pas untuk menanamkan pemahaman yang benar pada pikiran anak adalah sebuah seni mendidik yang amat indah! Selebihnya adalah kesiapan kita untuk memberi tempo yang cukup kepadanya untuk tumbuh dan berkembang.

[5] Pria dewasa wajib sholat fardhu di masjid. Jadi yang dimaksud bagi mereka adalah memperbanyak sholat-sholat sunnah di rumah.

—————————————————–

Dari makalah yang diposting Bapak Fatkhurohman di milis asahpenaindonesia. Sangat memberi pencerahan buat saya pribadi. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai komunitas Permata Hati, bisa menghubungi :

Permata Hati (Perhimpunan Orangtua Pemerhati Islam)
Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok S No. 238 Karawang
telp: 0267-8456046, direct 081381149700 (Fatkhurohman)

Ayat-Ayat Cinta

Kurang lebih 2 bulan yang lalu – di Bandung, kami sempat melihat banner iklan film “Ayat-ayat Cinta” besutan sutradara Hanung B yang ternyata diundurkan launchingnya. Menurut Ummi, yang sudah pernah membaca novelnya waktu kuliah dulu, temanya sangat menyentuh, dan membuat penasaran tentang bagaimana versi filmnya.

Sebenarnya sudah sejak hari Minggu (2 Maret 08) Ummi mengajak Abi untuk bisa menyaksikan film tersebut di Daan Mogot Mall, tetapi sepertinya antusiasme orang sangat tinggi untuk menyaksikan film tersebut, apalagi di hari libur, akhirnya kamipun urung menyaksikan film tersebut diputar.

Di kesempatan-kesempatan khusus, kami terkadang menyisihkan waktu untuk bercengkrama berdua saja. Bagi kami, kesempatan itu sangat penting kami gunakan untuk merefresh dan menambah semarak perjalanan hidup kami, membicarakan komitmen-komitmen kami, membahas rencana untuk anak, maupun rencana-rencana kami tentang masa depan. Bagi kami – romantisme itu perlu, di tengah perjalanan hidup keluarga kami yang baru 4 tahun, bukankah Nabi juga sangat romantis terhadap istrinya? Amat banyak episode kehidupan Nabi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan romantisme hubungan suami istri. Kisah tentang permainan balap lari antara Aisyah dengan sang Nabi, kebiasaan Aisyah bersandar di dada Nabi, maupun kebiasaan-kebiasaan lainnya yang menggambarkan begitu tingginya akhlaq sang Nabi kepada istrinya. Kami sangat bersyukur masih bisa menciptakan momen ini, sebab tak jarang kami dengar tentang kehidupan pasangan suami istri yang hambar, yang bahkan bercanda sajapun amat jarang…pose wah.. bagaimana karakter anak-anaknya ya?

Bi, nanti sore – kita nonton yuk…ajak Ummi pada Abi, di Senin pagi (3 Mar 08). Sebenarnya di Senin Sore Abi sudah punya rencana untuk main basket di lapangan ABC Senayan dengan mantan rekan-rekan kantornya sewaktu di EY dulu. Tapi, kesempatan itu bisa di-setting di lain waktu, sepertinya momen special ini gak usah dilewatkan..

Akhirnya sesuai janji, meluncurlah kita di Senin Sore ke DM, kebetulan lokasinya terdekat dengan rumah kami, setelah menitipkan anak-anak kepada para pembantu dan baby sitter di rumah. “Titip anak-anak ya.. sebelum berangkat”. Ternyata.. sampai disanapun, ternyata tiket sampai dengan jam 20.30 pun telah terjual.

Bi.. .jadinya gimana nih? Yang ada tinggal jam 21.00.
Ya sudahlah, jam 21.00 aja, toh kita kan gak telalu jauh nontonnya, dan kita bisa terlebih dahulu main dengan anak-anak. Akhirnya kami putuskan ambil jam 21.00 dan kamipun pulang ke rumah lagi, untuk cengkrama dengan kedua buah hati kami yang lucu-lucu.

Tibalah waktu pemutaran, kamipun datang tepat waktu.
Terlepas dari pro kontra tentang film Ayat-Ayat Cinta ini, kami mencoba berusaha mengambil nilai-nilai kebaikan yang ada didalamnya.bukuayat-ayat cinta
Sosok Fahri yang disinggung dalam film ini memang tampak ideal, gambarkan figur insan yang mencoba mengaplikasikan nilai-nilai ke Islaman yang universal, Prinsip-prinsip Islam yang melindungi, walau terhadap orang kafir sekalipun, terlihat dari potongan dialog saat Fahri berada dalam konflik dengan seorang pria Mesir yang hendak menghardik Aishah (wanita bercadar yang kemudian menjadi istrinya) -yang memberikan tempat duduk bagi ibu jurnalis wanita Amerika yang sedang kelelahan- padahal jelas-jelas tidak seakidah dalam suatu perjalan di kereta api.

Potongan-potongan alur kisah romantis yang ada dalam film tersebut juga secara tidak langsung mengingatkan kami untuk tetap menjaga suasana kasih sayang dalam keluarga kecil kami. Nilai-nilai akan keikhlasan- keikhalasan menerima perbedaan, maupun kekurangan pasangan, bagi kami amat berharga. Kami kembali diingatkan bahwa pernikahan ditopang oleh spirit menjembatani perbedaan, itulah yang akan menyebabkan kehidupan keluarga ini terasa lebih berwarna. Prinsip-prinsip kesabaran, bahwa sang Khaliq akan memberikan berbagai ujian kepada manusia yang hendak “naik kelas”.

Bagi kami… film ini akan sangat bermanfaat untuk memberi sedikit pencerahan bagi keluarga kita.
Bagi kami… pria dan wanita adalah makhluk yang berbeda, Allah sebagai pencipta telah tahu rahasia kita semua.. karena itu mengapa kita tidak tunduk pada-Nya?

Namun yang lebih penting setelah itu adalah…sudahkah kita perbaharui komitmen berkeluarga kita?

Allahummarhamna bil Qur’an .. (Ya Allah .. rahmatilah kami dengan Al-Qur’an)
Waj alhu lana imamam wa nuuran (Dan jadikanlah dia (Qur’an) bagi kami ,imam dan Cahaya
Wa hudan wa rahmat (Dan Petunjuk serta Rahmat) …

Amiin..

Citra Garden 2 Ext:
5 Maret 08, 2008.
23:14 PM

Memberi Semangat Pada Anak Yatim …

Di Hari Ahad ini (2 Mar 08) – Abi dapat undangan untuk memberi taushiyah di depan anak-anak yatim dan para orang tua yang mendapatkan bantuan dari Rohis PT GMF. Pak Irwan, besok bisa datang kan? Tanya Pak Jawahir di hari Jum’at untuk mengkonfirmasi kesediaan Abi datang di acara tersebut. Ya Insya Allah, saya datang Pak..

Baru kali ini, Abi Irwan dapat kesempatan untuk berbagi sesuatu didepan anak-anak yang tidak seberuntung Zalfa dan Aisyah – yang masih punya Ummi dan Abi yang berusaha keras untuk mendidiknya. Hidup tanpa perhatian yang lengkap dari figur yang seharusnya mendampingi episode awal hidup dari anak-anak tersebut.

Pada saat artikel ini ditulis, apa kondisi anak yatim itu pada hakikatnya sama saja dengan anak zaman sekarang yang secara “de facto” telah kehilangan panutan orang tuanya? Begitu banyak anak-anak sekarang yang sudah besar “dibawah bimbingan” play station, Nintendo, VCD, ataupun para pembantu, sekolah-sekolah yang terkesan jadi tempat penitipan anak, maupun sarana lainnya yang jangan-jangan telah menggantikan fungsi orang tua yang sesungguhya? Mungkin ini akhirnya menjadi otokritik bagi diri kita sebagai orang tua, untuk berkontemplasi – sudahkah kita berusaha memainkan peranan yang tepat untuk kehidupan anak-anak masa depan kita?

Abi datang agak terlambat dari jadwal yang seharusnya, karena kebetulan Aisyah harus periksa ke dokter karena sakit flu, maklum lah.. anak terkecil kami ini memang agak lemah dibandingkan kakaknya Zalfa, sehingga lebih gampang sakit. Terlebih, kedua anak ini memang keturunan anak alergi.

Pada saat tiba di Mesjid Al Mujaddid, acara memang sudah dimulai dengan sambutan-sambutan dari Ustad Dadang dan Pak Jawahir, yang memang in-charge untuk pelaksanaan acara pemberian bantuan kepada anak-anak yatim ini. Sambil mengisi kedatangan Abi, Pak Jawahir sengaja memutar video klip GMF Corporate Image – yang biasanya dipergunakan untuk kesempatan promosi profile perusahaan di kalangan luas. Tampak dari air muka anak-anak ini yang begitu antusias melihat klip tersebut. Mungkin potongan-potongan video klip tersebut bisa membentuk alam bawah sadar mereka tentang harapannya untuk masa depan. Kegiatan ini memang sengaja diadakan untuk memberikan harapan optimis bagi mereka – bahwa masih ada orang-orang yang care dengan mereka. Yang hadir dalam acara ini sangat bervariasi – mulai dari kelas 3 SD sampai dengan yang sudah SMA.

Kesempatan bicara sudah diberikan kepada Abi, ya.. langsung aja deh dimulai. Wah, melihat range audience yang sangat beragam, sepertinya metodenya harus diubah nih.taushiyah anak Karena itu Abi sengaja membuat guyonan untuk anak-anak tersebut agar bisa fokus sehingga bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan. Pertama-tama Abi menyitir tentang pentingnya bersyukur, karena begitu banyak manusia yang tidak bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan dari Sang Khaliq. Abi mencoba melakukan simulasi dengan melibatkan salah satu anak bernama Arif.
Rif, sekarang umurnya berapa? 14 tahun Pak, jawab Arif
Setiap hari Arif pasti minum kan? Karena hanya onta yang kuat tidak minum dalam jangka waktu yang lama.
Iya Pak,
Anggaplah setiap hari paling tidak kita minum 2 liter air.
Berarti, kalau total air yang sudah Arif minum selama hidup ini sudah ada sekitar 10,220 liter, tapi kenapa badan Arif masih segini-gini aja ya?
Yang ditanya langsung mesem-mesem.
10,220 liter itu setara dengan 2 mobil tanki air yang biasa kita lihat di jalan, dengan begitu, maka tidak akan ada manusia yang paling ganteng ataupun cantik didunia, karena bisa dibayangkan apakah orang akan terlihat ganteng/cantik dengan berat tubuh setara 2 tangki air?
Anak-aanak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perumpamaan itu.
Nah itulah bukti kebesaran Allah pada kita, lalu kenapa kita masih tidak mau bersyukur kepada-Nya?
Lalu Abi memutarkan Nasyid Raihan yang liriknya :
“Apa yang ada… jarang disyukuri…
Apa yang tiada .. sering dirisaukan..
Nikmat yang dikecap .. baru kan terasa..
Bila hilang, apa yang diburu.. timbul rasa jemu
Bila sudah … didalam genggaman..
Dunia ibarat .. air laut…
Diminum hanya menambah haus.
Nafsu bagaikan fatamorgana di padang pasir.
Panas yang membahas .. disangka air..
Dunia dan nafsu.. bagai baying-bayang
Dilihat ada.. ditangkap hilang…”

Itulah sekelumit kisah dari sesi pembekalan Abi pada anak-anak yatim tersebut. Abipun mengingatkan.. bahwa Nabipun terlahir dalam keadaan yatim piatu, sehingga apa yang mereka alami sekarang, sama dengan apa yang dialami Nabi Muhammad SAW.

Di kesempatan ini Abi juga menyampaikan kepada orang-orang tua mereka, agar sama-sama memperhatikan masa depan mereka..shalat

Acara selesai menjelang Zuhur, setelah shalat Zuhur, dilanjutkan dengan pemberian bantuan secara simbolis dan diakhiri makan siang bersama.

Dalam wajah mereka, tampak wajah penuh harapan,taushiyah 2 menanti kasih yang sempurna…. Apakah kita termasuk orang-orang yang peduli pada mereka?

Yuk berdayakan pembantu kita !!!

shalatAktivitas keluarga, kami mulai sejak subuh – kami punya kebiasaan untuk melakukan shalat Shubuh berjamaah di rumah, bersama Ummi, terkadang ditemani dua pasukan cilik yang sudah terbangun, baby sitter dan 2 pembantu rumah kami. Ajang subuhan ini kami gunakan untuk bersama-sama menerapkan dan menyemaikan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga kami. Biasanya setelah subuh, kami teruskan dengan membaca Qur’an dan artinya, ditambah dengan sedikit pembahasan dari Abi. Kami sangat ingin memberikan edukasi nilai-nilai kebaikan dalam keluarga kami, termasuk kepada pembantu-pembantu kami, karena mereka ini partner kami dalam menempuh kehidupan harian di rumah. Soalnya pada saat kami berdua meninggalkan rumah untuk kerja di kantor, ketiga pendamping rumah ini menjadi pendukung utama perkembangan kehidupan 2 pasukan cilik kami. Cukup sering kami amati keluarga yang meninggalkan anak-anaknya di rumah tanpa memberikan bekalan yang cukup bagi para pengasuhnya di rumah, sehingga sering terjadi kasus dimana anak akhirnya kena pengaruh jelek karena pengaruh para pembantunya di rumah.

Menurut kami hal itu wajar saja, mungkin karena para pembantu tidak pernah dibekali pemahaman ataupun penanaman nilai-nilai kebaikan – ya.. maklum aja.. hal ini lebih dikarenakan latar belakang pendidikan, keluarga maupun lingkungan yang menyebabkan mereka tidak punya bekalan baik untuk diri mereka maupun untuk anak-anak yang diasuhnya. Bagi kami, mereka toh manusia juga.. butuh pengajaran, yang membedakan kami dengan mereka Cuma status yang tugasnya membantu kami. Justru kami sebagai orang-orang yang lebih dulu tahu punya kewajiban untuk menyampaikan prinsip-prinsip kebaikan kepada mereka – kami menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga kami. Bukankah telah ada ayat yang mengatakan ““Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu … (At-Tahrim:6)”,

Momen subuhan kami manfaatkan untuk “konsolidasi” atas apa yang telah terjadi dalam kehidupan keseharian kami, aktivitas anak-anak, sekaligus penanaman nilai-nilai ke Islaman, disinipun kami mengenalkan kepada anak-anak kami, maupun para pembantu kami, bahwa Islam itu amat sempurna. Islam mengatur berbagai hal secara komprehensif, sejak dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi. Kami ingin mengenalkan bahwa Al-Qur’an dan Hadits ibarat manual book yang kami gunakan untuk mengarungi hidup yang penuh tantangan ini, ibarat resep dokter yang diberikan kepada pasien yang harus ditebus dan diminum obatnya, perumpamaan Al-Qur’an dan Hadits amat mirip. Kami punya keyakinan bahwa keluarga yang tidak pernah mencoba untuk mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan dalam Qur’an dan Hadits tersebut, ibarat pasien yang tidak ingin sembuh dari penyakitnya, ataupun ibarat Mobil Toyota yang diservis dengan menggunakan Manual Book Mobil Daihatsu. Akibatnya bukannya sembuh atau mobilnya bisa beroperasi sempurna, tapi penyakit yang bertambah parah ataupun mesin mobil yang akhirnya makin rusak.

Bagi kami, mengamalkan kebaikan – bisa dimulai dari keluarga, dan bisa dimulai dengan mengajari para pembantu kita dengan nilai-nilai kebaikan.

Bagaimana pendapat Anda?

Bersih-bersih yuk !!!

Sabtu (1 Maret 2008) ini, kami berniat mengajarkan hal yang baru kepada Zalfa..

Dari info-info yang pernah kami baca, kami mendapatkan kesimpulan bahwa sejak usia dini, kita bisa mulai 
mengajarkan nilai-nilai tanggungjawab dan kemandirian pada anak. Hari ini langit tampak cerah, usai jalan-jalan keliling kompleks bersama Zalfa dan Aisyah, kami mencari mainan baru untuk anak kami.

Wah.. sepeda sepertinya kotor, sepertinya perlu dicuci tuh.. Zalfa.. ikut abi cuci sepeda yuk..bersih speda

seriusYa.. anak kecil memang suka main air.. langsung saja Zalfa tenggelam dalam aktivitas barunya
 .. cuci sepeda Abi… hehehe.. Pada dasarnya anak-anak memang senang dilibatkan dalam aktivitas domestik rumah. Zalfa paling senang kalau diajak siram taman, 
karena disitu dia bisa main air.. namanya juga anak-anak..hehheserius2

Nak.. itu sekalian sepeda kakak di cuci juga ya.. biar bersih tuh.. kan udah lama nggak dicuci.. Iya bi.. 
Zalfapun tampak sibuk membersihkan sepedanya.. tak ketinggalan sepeda adiknyapun ikut dibersihkan..

Main air ah….Abinya iseng siram air ke Zalfa.. dan si kakakpun tertawa tergelak-gelak…33

Ya… belajar bisa dimana saja, dgn siapa saja.. kapan saja..