Memberi Semangat Pada Anak Yatim …

Di Hari Ahad ini (2 Mar 08) – Abi dapat undangan untuk memberi taushiyah di depan anak-anak yatim dan para orang tua yang mendapatkan bantuan dari Rohis PT GMF. Pak Irwan, besok bisa datang kan? Tanya Pak Jawahir di hari Jum’at untuk mengkonfirmasi kesediaan Abi datang di acara tersebut. Ya Insya Allah, saya datang Pak..

Baru kali ini, Abi Irwan dapat kesempatan untuk berbagi sesuatu didepan anak-anak yang tidak seberuntung Zalfa dan Aisyah – yang masih punya Ummi dan Abi yang berusaha keras untuk mendidiknya. Hidup tanpa perhatian yang lengkap dari figur yang seharusnya mendampingi episode awal hidup dari anak-anak tersebut.

Pada saat artikel ini ditulis, apa kondisi anak yatim itu pada hakikatnya sama saja dengan anak zaman sekarang yang secara “de facto” telah kehilangan panutan orang tuanya? Begitu banyak anak-anak sekarang yang sudah besar “dibawah bimbingan” play station, Nintendo, VCD, ataupun para pembantu, sekolah-sekolah yang terkesan jadi tempat penitipan anak, maupun sarana lainnya yang jangan-jangan telah menggantikan fungsi orang tua yang sesungguhya? Mungkin ini akhirnya menjadi otokritik bagi diri kita sebagai orang tua, untuk berkontemplasi – sudahkah kita berusaha memainkan peranan yang tepat untuk kehidupan anak-anak masa depan kita?

Abi datang agak terlambat dari jadwal yang seharusnya, karena kebetulan Aisyah harus periksa ke dokter karena sakit flu, maklum lah.. anak terkecil kami ini memang agak lemah dibandingkan kakaknya Zalfa, sehingga lebih gampang sakit. Terlebih, kedua anak ini memang keturunan anak alergi.

Pada saat tiba di Mesjid Al Mujaddid, acara memang sudah dimulai dengan sambutan-sambutan dari Ustad Dadang dan Pak Jawahir, yang memang in-charge untuk pelaksanaan acara pemberian bantuan kepada anak-anak yatim ini. Sambil mengisi kedatangan Abi, Pak Jawahir sengaja memutar video klip GMF Corporate Image – yang biasanya dipergunakan untuk kesempatan promosi profile perusahaan di kalangan luas. Tampak dari air muka anak-anak ini yang begitu antusias melihat klip tersebut. Mungkin potongan-potongan video klip tersebut bisa membentuk alam bawah sadar mereka tentang harapannya untuk masa depan. Kegiatan ini memang sengaja diadakan untuk memberikan harapan optimis bagi mereka – bahwa masih ada orang-orang yang care dengan mereka. Yang hadir dalam acara ini sangat bervariasi – mulai dari kelas 3 SD sampai dengan yang sudah SMA.

Kesempatan bicara sudah diberikan kepada Abi, ya.. langsung aja deh dimulai. Wah, melihat range audience yang sangat beragam, sepertinya metodenya harus diubah nih.taushiyah anak Karena itu Abi sengaja membuat guyonan untuk anak-anak tersebut agar bisa fokus sehingga bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan. Pertama-tama Abi menyitir tentang pentingnya bersyukur, karena begitu banyak manusia yang tidak bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan dari Sang Khaliq. Abi mencoba melakukan simulasi dengan melibatkan salah satu anak bernama Arif.
Rif, sekarang umurnya berapa? 14 tahun Pak, jawab Arif
Setiap hari Arif pasti minum kan? Karena hanya onta yang kuat tidak minum dalam jangka waktu yang lama.
Iya Pak,
Anggaplah setiap hari paling tidak kita minum 2 liter air.
Berarti, kalau total air yang sudah Arif minum selama hidup ini sudah ada sekitar 10,220 liter, tapi kenapa badan Arif masih segini-gini aja ya?
Yang ditanya langsung mesem-mesem.
10,220 liter itu setara dengan 2 mobil tanki air yang biasa kita lihat di jalan, dengan begitu, maka tidak akan ada manusia yang paling ganteng ataupun cantik didunia, karena bisa dibayangkan apakah orang akan terlihat ganteng/cantik dengan berat tubuh setara 2 tangki air?
Anak-aanak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perumpamaan itu.
Nah itulah bukti kebesaran Allah pada kita, lalu kenapa kita masih tidak mau bersyukur kepada-Nya?
Lalu Abi memutarkan Nasyid Raihan yang liriknya :
“Apa yang ada… jarang disyukuri…
Apa yang tiada .. sering dirisaukan..
Nikmat yang dikecap .. baru kan terasa..
Bila hilang, apa yang diburu.. timbul rasa jemu
Bila sudah … didalam genggaman..
Dunia ibarat .. air laut…
Diminum hanya menambah haus.
Nafsu bagaikan fatamorgana di padang pasir.
Panas yang membahas .. disangka air..
Dunia dan nafsu.. bagai baying-bayang
Dilihat ada.. ditangkap hilang…”

Itulah sekelumit kisah dari sesi pembekalan Abi pada anak-anak yatim tersebut. Abipun mengingatkan.. bahwa Nabipun terlahir dalam keadaan yatim piatu, sehingga apa yang mereka alami sekarang, sama dengan apa yang dialami Nabi Muhammad SAW.

Di kesempatan ini Abi juga menyampaikan kepada orang-orang tua mereka, agar sama-sama memperhatikan masa depan mereka..shalat

Acara selesai menjelang Zuhur, setelah shalat Zuhur, dilanjutkan dengan pemberian bantuan secara simbolis dan diakhiri makan siang bersama.

Dalam wajah mereka, tampak wajah penuh harapan,taushiyah 2 menanti kasih yang sempurna…. Apakah kita termasuk orang-orang yang peduli pada mereka?

Tinggalkan Balasan