Kurang lebih 2 bulan yang lalu – di Bandung, kami sempat melihat banner iklan film “Ayat-ayat Cinta” besutan sutradara Hanung B yang ternyata diundurkan launchingnya. Menurut Ummi, yang sudah pernah membaca novelnya waktu kuliah dulu, temanya sangat menyentuh, dan membuat penasaran tentang bagaimana versi filmnya.
Sebenarnya sudah sejak hari Minggu (2 Maret 08) Ummi mengajak Abi untuk bisa menyaksikan film tersebut di Daan Mogot Mall, tetapi sepertinya antusiasme orang sangat tinggi untuk menyaksikan film tersebut, apalagi di hari libur, akhirnya kamipun urung menyaksikan film tersebut diputar.
Di kesempatan-kesempatan khusus, kami terkadang menyisihkan waktu untuk bercengkrama berdua saja. Bagi kami, kesempatan itu sangat penting kami gunakan untuk merefresh dan menambah semarak perjalanan hidup kami, membicarakan komitmen-komitmen kami, membahas rencana untuk anak, maupun rencana-rencana kami tentang masa depan. Bagi kami – romantisme itu perlu, di tengah perjalanan hidup keluarga kami yang baru 4 tahun, bukankah Nabi juga sangat romantis terhadap istrinya? Amat banyak episode kehidupan Nabi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan romantisme hubungan suami istri. Kisah tentang permainan balap lari antara Aisyah dengan sang Nabi, kebiasaan Aisyah bersandar di dada Nabi, maupun kebiasaan-kebiasaan lainnya yang menggambarkan begitu tingginya akhlaq sang Nabi kepada istrinya. Kami sangat bersyukur masih bisa menciptakan momen ini, sebab tak jarang kami dengar tentang kehidupan pasangan suami istri yang hambar, yang bahkan bercanda sajapun amat jarang…
wah.. bagaimana karakter anak-anaknya ya?
Bi, nanti sore – kita nonton yuk…ajak Ummi pada Abi, di Senin pagi (3 Mar 08). Sebenarnya di Senin Sore Abi sudah punya rencana untuk main basket di lapangan ABC Senayan dengan mantan rekan-rekan kantornya sewaktu di EY dulu. Tapi, kesempatan itu bisa di-setting di lain waktu, sepertinya momen special ini gak usah dilewatkan..
Akhirnya sesuai janji, meluncurlah kita di Senin Sore ke DM, kebetulan lokasinya terdekat dengan rumah kami, setelah menitipkan anak-anak kepada para pembantu dan baby sitter di rumah. “Titip anak-anak ya.. sebelum berangkat”. Ternyata.. sampai disanapun, ternyata tiket sampai dengan jam 20.30 pun telah terjual.
Bi.. .jadinya gimana nih? Yang ada tinggal jam 21.00.
Ya sudahlah, jam 21.00 aja, toh kita kan gak telalu jauh nontonnya, dan kita bisa terlebih dahulu main dengan anak-anak. Akhirnya kami putuskan ambil jam 21.00 dan kamipun pulang ke rumah lagi, untuk cengkrama dengan kedua buah hati kami yang lucu-lucu.
Tibalah waktu pemutaran, kamipun datang tepat waktu.
Terlepas dari pro kontra tentang film Ayat-Ayat Cinta ini, kami mencoba berusaha mengambil nilai-nilai kebaikan yang ada didalamnya.![]()
![]()
Sosok Fahri yang disinggung dalam film ini memang tampak ideal, gambarkan figur insan yang mencoba mengaplikasikan nilai-nilai ke Islaman yang universal, Prinsip-prinsip Islam yang melindungi, walau terhadap orang kafir sekalipun, terlihat dari potongan dialog saat Fahri berada dalam konflik dengan seorang pria Mesir yang hendak menghardik Aishah (wanita bercadar yang kemudian menjadi istrinya) -yang memberikan tempat duduk bagi ibu jurnalis wanita Amerika yang sedang kelelahan- padahal jelas-jelas tidak seakidah dalam suatu perjalan di kereta api.
Potongan-potongan alur kisah romantis yang ada dalam film tersebut juga secara tidak langsung mengingatkan kami untuk tetap menjaga suasana kasih sayang dalam keluarga kecil kami. Nilai-nilai akan keikhlasan- keikhalasan menerima perbedaan, maupun kekurangan pasangan, bagi kami amat berharga. Kami kembali diingatkan bahwa pernikahan ditopang oleh spirit menjembatani perbedaan, itulah yang akan menyebabkan kehidupan keluarga ini terasa lebih berwarna. Prinsip-prinsip kesabaran, bahwa sang Khaliq akan memberikan berbagai ujian kepada manusia yang hendak “naik kelas”.
Bagi kami… film ini akan sangat bermanfaat untuk memberi sedikit pencerahan bagi keluarga kita.
Bagi kami… pria dan wanita adalah makhluk yang berbeda, Allah sebagai pencipta telah tahu rahasia kita semua.. karena itu mengapa kita tidak tunduk pada-Nya?
Namun yang lebih penting setelah itu adalah…sudahkah kita perbaharui komitmen berkeluarga kita?
Allahummarhamna bil Qur’an .. (Ya Allah .. rahmatilah kami dengan Al-Qur’an)
Waj alhu lana imamam wa nuuran (Dan jadikanlah dia (Qur’an) bagi kami ,imam dan Cahaya
Wa hudan wa rahmat (Dan Petunjuk serta Rahmat) …
Amiin..
Citra Garden 2 Ext:
5 Maret 08, 2008.
23:14 PM
DIarsipkan di bawah: romantisme | Tagged: Ayat-ayat cinta, kemesraan, romatisme